"Mengikuti kegiatan melukis payung, seneng banget."
"Saya bikin corak bunga karena cantik dan bagus, sempat susah bagian melukis bunga," ucap Haura Kanza kepada Portaloka.id.
Sementara itu, guru pendamping, Danang Eko Pambudi mengatakan ada 102 siswa yang mengikuti kegiatan melukis payung.
Selain untuk mengasah kreatifitas dalam melukis, kegiatan ini juga sebagai upaya memperkenalkan anak pada sejarah payung tradisional.
"Memperkenalkan anak pada home industri, ternyata sejarah payung di Indonesia cukup bagus."
"Selain itu untuk mengasah kreatifitas siswa, memberikan pembelajaran tentang melukis di atas payung supaya kreatif," ucap Danang Eko Pambudi kepada Portaloka.id.
Salah satu perajin payung kertas, Adam Anjarudin mengatakan sejarah payung kertas awalnya digunakan sebagai perlengkapan upacara kematian dan ritual adat.
Namun seiring berjalannya waktu, kegunaan payung tradisional berubah untuk hiasan dan perlengkapan dekorasi.
Biasanya, payung lukis tersebut dijadikan sebagai hiasan di rumah, hotel, warung makan hingga tempat wisata.
"Kalau dulu untuk payung biasa digunakan untuk upacara adat seperti di Bali Ngaben, Solo Jogja untuk menyambut tamu kerajaan dan simbol kenaikan pangkat."