PORTALOKA.ID - Bulan Muharram termasuk salah satu momentum penting bagi umat Islam karena menjadi bulan pembuka tahun baru Hijriah.
Bulan Muharram juga merupakan satu di antara empat bulan mulia.
Umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di bulan Muharram, salah satunya dengan menjalankan puasa Tasua dan Asyura pada 9 dan 10 Muharram.
Puasa Tasua dan Asyura mempunyai nilai pahala yang besar.
Baca Juga: Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 9-10 Muharram Versi Pemerintah, NU, dan Muhammadiyah
Bahkan, Rasulullah SAW menyebut puasa sunah di bulan Muharram sebagai puasa yang paling utama setelah puasa di bulan Ramadhan.
Selain puasa, umat Islam juga dianjurkan untuk memperbanyak amal kebaikan, seperti menyantuni anak yatim.
Nah, pada tanggal 10 Muharram sendiri kerap disebut sebagai lebaran anak yatim. Kenapa demikian?
Dalam Islam, menyantuni anak yatim adalah amalan yang sangat dianjurkan.
Baca Juga: Niat Puasa 9 dan 10 Muharram Lengkap dengan Tata Caranya
Rasulullah SAW pun sangat menyayangi anak yatim dan senantiasa memberikan perhatian khusus kepada mereka.
"Siapa orang yang mengusap kepala anak yatim (menyantuni/menyayangi) pada hari Asyura (10 Muharram), maka Allah SWT akan angkat derajatnya sebanyak rambut anak yatim tersebut yang terusap oleh tangannya" (Hadits ke 212 dari kitab Tanbih Al-Ghafilin).
Melansir laman baznas, sejarah tradisi lebaran anak yatim berakar dari ajaran Islam yang mengajarkan pentingnya berbagi dan peduli terhadap sesama, terutama anak yatim.
Sementara dilansir dari yakesma.org, lebaran anak yatim atau disebut Idul Yatama mulanya hanya ungkapan kegembiraan bagi anak-anak yatim, karena di bulan Muharram banyak orang yang memberikan perhatian dan santunan kepada mereka.