Manusia bukanlah makhluk abadi, tapi makhluk yang senantiasa terus beregenerasi. Setiap generasi manusia tua nantinya akan digantikan dengan tunas-tunas baru. Hal ini sebagaimana disampaikan Al-Qur’an pada Q.S. An-Nisa’ [4]: 1:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ وَّخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَّنِسَاۤءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاۤءَلُوْنَ بِهٖ وَالْاَرْحَامَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
“Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu (Adam) dan Dia menciptakan darinya pasangannya (Hawa). Dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan (peliharalah) hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.”
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Adam a.s. dan Hawa tidak diciptakan melalui proses evolusi hayati seperti makhluk hidup lainnya, tetapi diciptakan secara khusus seorang diri, lalu diciptakanlah pasangannya dari dirinya. Mekanismenya tidak dapat dijelaskan secara sains. Selanjutnya, barulah anak-anaknya lahir dari proses biologis secara berpasangan-pasangan sesuai kehendak-Nya.
Baca Juga: Tata Cara Sholat Tahajud Dilengkapi dengan Niat dan Doanya
Sebagai pengganti, generasi baru akan melanjutkan tugas dan amanah yang sebelumnya telah diemban oleh generasi lama. Maka generasi lama tidak boleh meninggalkan mereka tanpa modal dan sumber daya memadai sehingga memberatkan calon penggantinya. Pada Q.S. An-Nisa’ [4]: 3, Al-Qur’an memperingatkan umat Islam untuk mampu menjamin keberlanjutan generasinya dengan tidak meninggalkannya dalam keadaan lemah dan tidak sejahtera. Allah Swt berfirman:
وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا.
“Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).”
Sidang Jum’at yang berbahagia,
Berkaitan dengan tugas dan amanah manusia di dunia, Ragib Al-Ashfihani mengemukakan bahwa ada dua alasan utama atau maqāshid di balik penciptaan manusia yaitu sebagai hamba yang beribadah kepada Tuhannya, sebagaimana pada Q.S. Adz-Dzariyat [51]: 56:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ.
“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
Baca Juga: Kapan Idul Adha 2025? Ini Menurut Kalender Hijriah, Muhammadiyah dan SKB 3 Menteri
Lalu kedua, sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas sebagai perwakilan Tuhan dalam melakukan manajemen yang baik untuk memakmurkan bumi. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 30 dan Q.S. Hud [11]: 61. Allah Swt berfirman:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً.