Sabtu, 18 Juli 2026

Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Harus Berurutan atau Boleh Terpisah? Begini Penjelasannya

Photo Author
Arman Odie, Portaloka
- Selasa, 1 April 2025 | 09:25 WIB
Ilustrasi - Penjelasan terkait waktu puasa 6 hari Syawal (Freepi/freepik)
Ilustrasi - Penjelasan terkait waktu puasa 6 hari Syawal (Freepi/freepik)

PORTALOKA.ID - Baru saja menyelesaikan Ramadhan, tandanya telah memasuki Syawal.

Dengan dilakukannya shalat Idul Fitri, umat Muslim berarti telah memasuki 1 Syawal.

Meski Ramadhan usai, di bulan Syawal ini juga masih bisa melakukan berpuasa, yaitu puasa Syawal.

Sunnah puasa Syawal adalah dilakukan selama 6 hari di bulan Syawal.

Baca Juga: Mana yang Didahulukan, Mengganti Utang Puasa Ramadhan atau Puasa 6 Hari Syawal?

Menurut hadis dari Rasulullah, puasa 6 hari di bulan Syawal setara dengan pahala puasa selama setahun.

“Barangsiapa puasa Ramadhan, kemudian ia sertakan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun penuh,” (HR Muslim).

Puasa Syawal Bisa Dilakukan Secara Terpisah

Puasa Syawal tidak harus dilakukan secara terus menerus setiap harinya karena dibolehkan untuk terpisah-pisah.

Baca Juga: Apakah Boleh Puasa Saat Hari Raya Idul Fitri? Begini Penjelasan dari Hadis Rasulullah SAW

Misal, puasa di hari ke-2 Syawal, namun baru bisa melanjutkan lagi di hari ke-5 Syawal.

“Sesungguhnya tidak disyaratkan dalam puasa Syawal untuk terus-menerus, dan cukup bagimu untuk puasa enam hari dari bulan Syawal sekalipun terpisah-pisah, sepanjang semua puasa tersebut dilakukan di dalam bulan ini (Syawal),” (Sayyid Abdullah al-Hadrami, al-Wajiz fi Ahkamis Shiyam wa Ma’ahu Fatawa Ramadhan).

Sedangkan pendapat tentang puasa Syawal dilakukan berurutan adalah dari tulisan Imam Abu Al-Husain Yahya bin Abil Khair bin Salim Al-Umrani Al-Yamani:

“Disunnahkan bagi orang yang puasa di bulan Ramadhan untuk meneruskan dengan puasa enam hari dari bulan Syawal. Dan (praktik) yang dianjurkan, yaitu dengan berpuasa Syawal secara terus-menerus, dan jika puasa dengan cara terpisah, maka diperbolehkan,” (Imam Abul Husain, Al-Bayan fi Mazhabil Imam Asy-Syafi’i.***

Editor: Arman Odie

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X